Thursday, July 08, 2004

Ustadz Abubakar Ba’asyir: “Kezhaliman Akan Terus Saya Lawan�

Inikah rupa wajah seorang kepala PENGGANAS??



Meski terus menjadi orang teraniaya oleh Amerika, Abubakar Ba'asyir berharap bisa menasehati Bush jika Allah menakdirkan bertemu. "Saya akan bilang, kalau kamu tidak taubat, nerakamu itu paling dalam,� ujarnya.

Ada satu tempat yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah hidup Ustadz Abubakar Ba’asyir (66). Yaitu: penjara. Sejak zaman Orde Baru sampai Era Reformasi, Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) ini telah beberapa kali masuk bui.

Tanggal 30 April lalu, Ustadz Abu –panggilan akrabnya— terjadwal bebas dari kepengapan sel Rumah Tahanan (Rutan) Salemba, Jakarta, yang telah dihuninya selama 1,5 tahun. Namun ibarat lepas dari mulut buaya lalu masuk ke dalam mulut singa, udara bebas itu tak bisa leluasa dihirupnya. Jeratan hukum baru telah menanti di depan pintu gerbang Rutan Salemba.

Vonis 1,5 tahun yang lalu akibat pelanggaran keimigrasian. Nah, yang sedang jadi bahan berita saat ini, Ustadz Abu hendak dijerat pasal-pasal yang mengerikan: terkait tindakan teror Bom Bali dan Bom Marriott.

Dua kasus tersebut sebenarnya pernah pula dituduhkan dalam persidangan sebelumnya. Namun saat itu di pengadilan tidak ditemukan bukti-bukti yang meyakinkan. Terpaksalah masalah keimigrasian yang jadi kambing hitam.

Saat ini konon telah ditemukan bukti-bukti baru yang bisa menjerat Ustadz Abu. Ketika berita ini ditulis, polisi telah menjatuhkan “status tersangka� dan siap-siap melakukan pemeriksaan. “Padahal saya belum menerima surat resmi tentang hal itu, tetapi di media massa sudah ramai,� kata Ustadz Abu.

Apa yang menimpa pendiri Pesantren Al-Mukmin Ngruki Sukoharjo (Jateng) ini tak pelak menimbulkan simpati banyak pihak. Di detik-detik akhir menjelang pembebasan, sekaligus detik-detik awal pemeriksaan baru, beberapa tokoh datang ke Rutan Salemba untuk memberi dukungan moral. Sekadar menyebut contoh, di antaranya Ahmad Soemargono (anggota DPR dari Fraksi Partai Bulan Bintang), Hidayat Nurwahid (Presiden Partai Keadilan Sejahtera), Habib Rizieq Syihab (Ketua Umum Front Pembela Islam), Habib Husein Al-Habsyi (Pimpinan Ikhwanul Muslimin Indonesia), anggota Komisi I DPR RI, Sri Bintang Pamungkas (mantan anggota DPR), M Arifin Ilham, Abdullah Gymnastiar, dan tokoh-tokoh ormas Islam. Dari kalangan pemuda dan mahasiswa juga sempat hadir, misalnya dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Pemuda Islam (GPI), Pelajar Islam Indonesia (PII), Barisan Muda Partai Amanat Nasional (BM PAN), bahkan Partai Rakyat Demokratik (PRD).

“Alhamdulillah. Selama ini saya hanya minta perlindungan dan bantuan kepada Allah. Ternyata beberapa elemen ummat Islam tergerak hatinya dengan ikhlas mendukung saya,� Ustadz Abu tampak terharu.

Ada satu titik simpul yang diperoleh dari beberapa pembicaraan dengan tokoh-tokoh di atas. Yaitu bahwa kasus Abubakar Ba’asyir saat ini tidak lagi menjadi kasus pribadi, tetapi sudah menjadi persoalan ummat, bahkan nasional. “Ini menyangkut masalah kedaulatan dan harga diri bangsa, karena ada indikasi intervensi dari pihak asing terhadap kasus saya.�


Bagaimana tanggapan Ustadz Abu sendiri berkaitan dengan kasus yang sedang dihadapinya? Kepada Abdul Hadi Damanik dan Pambudi Utomo dari Majalah Hidayatullah yang mengunjunginya di Rutan Salemba, pria berdarah Arab ini bercerita panjang lebar. Termasuk berkisah tentang pengalamannya selama menjadi narapidana. Berikut petikannya:

Baru saja bebas dari penjara, Anda hendak dijerat kasus baru lagi. Tanggapan Anda?

Dari segi hukum dan fakta, tuduhan kepada saya sangat tidak masuk akal. Saya dituduh terkait dengan Bom Bali. Ini kan jelas-jelas tidak terbukti di pengadilan yang lalu. Empat orang pelaku utama kasus ini (Amrozi, Ali Imron, Ali Ghufron, dan Imam Samudera) konon sempat menyebut-nyebut saya ikut dalam rapat perencanaan pengeboman. Namun pengakuan itu muncul karena mereka disiksa habis-habisan. Kabarnya sampai dipukuli, ditelanjangi, bahkan (maaf) kemaluannya disetrum. Nah, ketika di pengadilan, mereka mencabut pengakuan itu. Jadi kalau polisi tetap memaksakan kasus ini, sangat tidak masuk akal. Aparat berusaha mengaitkan pelaku Bom Bali yang kebetulan alumnus Ngruki...

Mukhlas (Ali Ghufron) memang pernah menjadi murid saya di Ngruki. Ketika ditanya di pengadilan, mengapa Anda waktu membuat rencana bom Bali tidak musyawarah dengan orang yang Anda tuakan yaitu Ustadz Abubakar Ba’asyir? Dia menjawab, kalau minta izin atau musyawarah dengan ustadz, program ini tidak akan terjadi. Ustadz pasti tidak setuju.

Saya memang tidak sependapat dengan model bom Bali itu. Menurut saya, melawan kezhaliman AS dan antek-antek-nya di wilayah aman itu jangan memakai senjata. Di sini, AS memerangi kita secara politis, maka lawanlah secara politis juga. Misalnya dengan memutuskan hubungan diplomatik. Bukan dengan meledakkan bom. Lain ceritanya kalau kita berada di Palestina, Bosnia, atau Maluku dan Poso. Di sana orang-orang kafir sudah memerangi kaum Muslimin dengan kekerasan, maka harus dilawan dengan senjata.

Anda juga dituduh terkait dengan Bom Marriott?

Saat kejadian Marriott, saya sedang berada dalam tahanan Mabes Polri. Mana bisa saya melakukannya atau dikaitkan dengan itu? Jadi serba tidak masuk akal. Namun justru inilah yang dituduhkan kepada saya. Begitulah, polisi memang menghendaki saya tetap ditahan atau dipenjara. Apapun dan bagaimanapun caranya.

Menurut Anda, kenapa aparat bertindak begitu?

Polisi bekerja keras karena dorongan dan permintaan dari Pemerintahan Amerika Serikat (AS). Setelah saya pelajari dengan seksama, jelas bahwa polisi di negara ini menjadi perpanjangan tangan AS. Karena itu apapun yang menjadi keinginan AS akan selalu diusahakan. Di antara instansi-instansi di Indonesia, yang paling banyak mendapat bantuan dari AS adalah Polri. Ini tampaknya disengaja oleh AS, agar polisi bisa dijadikan alat.

Kenapa AS melakukan itu?

AS sekarang ini mempunyai proyek melemahkan Islam di Indonesia. Tapi caranya sebelum menyerang Islam dengan senjata, mereka menyerang dengan Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran). Berusaha mengobok-obok Islam dari dalam. Misalnya dengan membentuk Jaringan Islam Liberal (JIL), kemudian mengundang ustadz-ustadz pesantren ke AS untuk dicuci otaknya, menggoda orang-orang oportunis dengan iming-iming dolar, dan banyak lagi. Selain itu, mereka juga berusaha mengubah kurikulum pesantren. Lebih jauh lagi, berusaha membubarkan pesantren yang tidak mau diajak kompromi.

Jadi sebenarnya yang mereka anggap sebagai musuh adalah para penegak syariat Islam. Salah satunya adalah saya. Sebenarnya AS dan polisi itu bukannya takut kepada saya sebagai pribadi, tetapi kepada upaya penegakan syariah. Mereka sebenarnya tahu bahwa saya ini sama sekali tidak paham tentang bom atau senjata. Yang membuat mereka khawatir adalah upaya saya dalam menegakkan syariah dan memperjuangkan adanya formalisasi syariat Islam.

Duta Besar AS Ralph L Boyce pernah mengatakan bahwa AS tidak melakukan penekanan kepada Polri, tetapi hanya memberikan bukti-bukti baru. Tanggapan Anda?

Itu omong kosong. Orang kafir memang tidak akan jujur. Selain mereka memberikan bukti-bukti, mereka juga menekan dan mengucurkan uang.

Bukti-bukti baru itu kabarnya berdasarkan pengakuan orang yang mengaku sebagai anggota Jamaah Islamiyah (JI). Menurut Anda?

Saya kan memang dipaksa mengaku sebagai amir organisasi yang disebut sebagai JI itu. Kalau sudah mengaku Amir JI, maka nanti saya akan dipaksa untuk mengakui pengeboman di seluruh penjuru dunia. Hebat betul.

Pada persidangan lalu, tuduhan serupa tidak terbukti. Saya sendiri dengan tegas menolak adanya organisasi yang disebut JI itu. Semua sudah selesai lewat pengadilan. Herannya, kok polisi mau mengulang lagi. Ini sudah tidak etis. Bahasa kasarnya, polisi sudah kurang ajar cara kerjanya. Padahal setahu saya, dari sisi hukum, sesuatu yang sudah disidangkan tidak boleh disidangkan lagi.

Salah satu bukti yang akan ditunjukkan adalah pengakuan dari orang bernama Hambali, yang disebut-sebut sebagai pembesar JI. Tanggapan Anda?

Saya tantang polisi untuk menghadirkan orang yang bernama Hambali itu, ke sini. Saya siap menghadapi. Kita lihat, bukti mana yang benar. Itu pula yang saya minta dalam persidangan lalu, yaitu menghadirkan orang yang bernama... siapa itu... Farouq. Ya, Umar Al-Farouq. Saya ini tidak pernah ngerti orang dan batang hidungnya, kok bisa-bisanya menuduh saya kenal dan jadi pimpinannya. Kesaksian orang ini malah dibawa ke pengadilan, padahal BAP-nya cuma berupa jawaban “yes� dan “no�. Ini kan aneh.

Jika aparat tetap memaksa melakukan pemeriksaan? Saya siap menghadapi, tapi saya tidak mau ditahan. Kalau saya ditahan, saya tidak mau diperiksa. Saya hanya mau diperiksa pada sidang pengadilan. Kalau saya akan ditahan, saya akan katakan, haram hukumnya karena ini adalah keinginan kafir harbi AS. Maka permintaannya haram untuk dilayani. Itu dalil saya.

Menghadapi situasi sekarang ini, apa yang Anda lakukan?

Saya hanya bisa membela diri dengan 3 cara. Tidak lebih dari itu. Pertama, saya akan menerangkan dengan ucapan saya. Seperti yang saya lakukan kepada Anda ini. Kedua, menempuh jalur hukum. Ketiga, berdoa.

Ada kabar pula, Anda mau dibawa ke tempat tahanan Al-Qaidah di Guantanamo (Kuba). Benarkah?

Memang ada berita-berita seperti itu. Salah satunya dikatakan oleh Habib Hussein Al-Habsy. Tapi itu sudah ditolak oleh Departemen Luar Negeri dan Kapolri sendiri. Tapi menurut pendapat Habib Hussein yang mengunjungi saya lagi, informasi itu betul. Alasannya, Kapolri Da’i Bahctiar tampak kebakaran jenggot dengan melakukan klarifikasi. Ini indikasi bahwa rencana itu memang bisa saja ada. Kalau tidak ada, mestinya Da’i kan tidak perlu repor-repot klarifikasi. Wong, kata Habib Hussein, ini cuma omongan orang buta saja.

Apa yang akan Anda lakukan kalau benar dibawa ke Guantanamo?

Akan saya lawan. Kalau misalnya saya punya senjata, akan saya lawan dengan senjata. Tapi kan saya tidak punya senjata. Tapi ngomong “kalau-kalau� itu susah, malah membuka pintu syetan. Kalau saya dibawa ke Guantana (semestinya Guantanamo), ah... tidak usah pakai seandainya lah.

Oh ya, kalau Allah mengizinkan Anda bertemu muka dengan Presiden AS George W Bush, apa yang akan Anda lakukan?

Ya.... akan saya nasihati. Saya akan bilang, “Kalau kamu tidak taubat, nerakamu itu paling dalam.� Saya pernah kirim surat kepadanya kok. Di antaranya saya katakan, “Kamu sudah diberi harta oleh Allah, tapi kamu gunakan untuk merusak dan memerangi Islam. Percayalah, kamu mesti kalah, Islam mesti menang. Ummat Islam bisa kamu bunuhi, tapi Islam tidak akan bisa kamu tumbangkan. Kamu yang akan hancur. Tapi jangan khawatir, kamu bisa bersih dosamu. Kamu harus taubat. Caranya, kamu masuk Islam dan berjuang untuk Islam. Insya Allah bersih dosamu.�

Upaya memaksa Ustadz Abubakar Ba’asyir agar masuk ke tahanan mengingatkan pada peristiwa hari Senin, tanggal 28 Oktober 2002, sekitar pukul 09.15 WIB.

Ustadz Abu lantas cerita panjang lebar. Saat itu ia tengah terbaring di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Solo, akibat gangguan jantung. Kondisi kesehatannya sangat lemah. Namun hal itu tidak menyurutkan langkah aparat untuk tetap menggelandang Ustadz Abu ke Jakarta. Aparat kepolisian sampai bentrok dengan para santri dan warga Solo yang membuat pagar betis. Beberapa orang luka-luka akibat insiden ini.

Ketika “mengambil� Ustadz Abu, polisi mendobrak pintu dengan sepatu lars dan popor senapan. Kaca ruang VIP Bangsal Firdaus Nomor 9 tempat Ustadz Abu dirawat, dipecah dengan gagang pistol. Brak! Aparat langsung membangunkan kyai sepuh yang tengah tergolek itu. Sejurus kemudian Ustadz Abu didudukkan di kursi roda. Dengan langkah bergegas, mereka mendorong kursi itu menuju sebuah mobil kijang. Bukan ambulan, sebagaimana mestinya pasien hendak dibawa ke luar kota. Di dalam mobil itu, telah siaga 8 orang polisi penyidik. Ustadz Abu sendiri cuma ditemani salah seorang menantunya.

Rupanya mobil itu hendak meluncur ke arah Semarang. Perjalanan Solo-Semarang cukup melelahkan, makan waktu sekitar 2 jam. Selama itu, sama sekali tidak ada tegur sapa di antara mereka. Mungkin saking tegangnya. “Saya diam saja, sebab kondisi fisik memang sangat lemah,� kenang ustadz yang rambutnya telah memutih ini. Di tengah perjalanan, tepatnya di sekitar Boyolali, Ustadz Abu tiba-tiba terasa ingin buang air kecil. Hal itu disampaikan kepada orang-orang di situ. “Tolonglah berhenti sejenak di pom bensin atau Polsek. Saya ingin buang air kecil,� pintanya. Orang-orang itu mengangguk-angguk. Salah satu di antaranya lantas menelepon seseorang, sepertinya sang komandan. Beberapa saat kemudian dia berkata, “Maaf, mobil ini tidak diperkenankan berhenti.�

Terang saja Ustadz Abu berang. “Komandan kalian ini bukan manusia. Masak ingin buang hajat saja tidak boleh!�

Karena tak tertahankan, masya Allah, akhirnya ia buang air kecil di botol air mineral. “Nih, buang sana!� katanya kepada salah satu petugas, sambil menyerahkan botol itu.

Sampai di Bandara Achmad Yani Semarang, Ustadz Abu langsung dinaikkan ke pesawat Garuda. Pada saat itu telinganya mendengar dan matanya melihat beberapa polisi tampak tertawa-tawa gembira. “Kita berhasil,� ujar mereka.

“Kabarnya, para polisi itu beberapa saat kemudian naik pangkat,� kata Ustadz Abu. Sejam kemudian, Ustadz Abu sudah dilarikan ke RS Polri Soekanto, Kramatjati, Jakarta Timur. Dia ditempatkan di kamar VIP. “Seumur-umur saya baru masuk rumah sakit ya waktu itu saja, sama di PKU Muhammadiyah Solo. Di ruang VIP dan gratis lagi,� kenangnya sambil terkekeh.

Begitu sembuh, Ustadz Abu dipindah ke ruang tahanan Mabes Polri. Setelah vonis jatuh, statusnya berubah menjadi narapidana Rutan Salemba.


Selama di Rutan Salemba, apakah Anda masih sering menderita penyakit jantung?

Kadang-kadang. Kalau kumat terasa berdebar-debar. Alhamdulillah sekarang tidak pernah. Mungkin karena di sini saya bisa cukup istirahat. Tidak ada kesulitan yang berarti. Ibadah bisa, shalat pun tenang. Beda dengan sewaktu ditahan di Mabes Polri, shalat Jumat saja sempat dilarang.

Bagaimana kiat Anda menjaga kesehatan sehingga tetap kelihatan bugar?

Pagi-pagi saya biasakan untuk jalan-jalan selama 30 menit. Saya juga mengurangi minum kopi karena khawatir maag bisa kambuh. Sebagai pengganti, saya minum habbasauda campur madu dan jahe, tiap pagi dan sore. Minum kopi ya masih sesekali lah.

Alhamdulillah, kalaupun sakit paling-paling flu saja. Namun di rutan ada klinik, jadi tidak masalah. Tim medis dari MER-C juga sering datang ke sini untuk mengontrol kesehatan. Kalau tidak sehat, tadi saya tidak bisa lari-lari menghindari hujan. (Ketika wawancara berlangsung, Rutan Salemba hujan deras. Ustadz Abu harus lari-lari untuk menghindari guyuran air hujan yang menerpa baju taqwa, peci, surban, dan sarungnya yang semua berwarna putih. Seragam dengan warna rambutnya).

Itukah yang menyebabkan Anda senantiasa tampak tegar?

Kita harus percaya bahwa semua ini sudah menjadi takdir. Sebelumnya saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghindarinya, tapi rupanya Allah menghendaki seperti sekarang ini. Saya dipenjara 1,5 tahun. Ini takdir Allah, maka harus diterima dengan ridha. Takdir Allah itu kalau berupa i’tila, tujuannya untuk menghilangkan dosa dan menaikkan derajat.

Kalaupun sekarang ada tanda-tanda saya mau diadili lagi, ya saya akan terus berusaha untuk menghindari. Kezhaliman akan terus saya lawan. Namun kalau nanti kemudian sudah maksimal usaha saya dan ternyata saya ditangkap lagi, itu juga takdir namanya.

Banyak hadits yang menyampaikan bahwa orang beriman itu meski kena ujian. Karena apa? Allah menghendaki, jika orang beriman itu wafat, akan bersih dari dosa. Ujian itu macam-macam, ada kebakaran, ada masuk penjara.

Anda merasa sedang dizhalimi?

Iya, jelas. Keputusan MA saya tolak, saya tidak mau menandatangani. Saya tetap meyakini bahwa diri saya tidak salah. Semua keputusan pengadilan negeri sampai MA adalah keputusan yang zhalim. Juga kerja polisi, mulai dari menangkap saya sampai memenjarakan adalah perbuatan zhalim.

Apa yang harus dilakukan oleh seseorang yang sedang dizhalimi?

Harus membela diri menurut kemampuan yang ada. Jangan malah tiarap. Kalau kita takut dan tiarap, pertolongan Allah tak akan datang. Percayalah, bahwa Islam pasti akan menang. Asal, kita sungguh-sungguh dalam menolong agama Allah.

Begitulah ajaran Islam. Paling tidak membelanya dengan doa. Seseorang ketika sudah tidak bisa berbuat apa-apa, masih punya satu alat yang bisa dilaksanakan yaitu doa. Doa orang yang terzhalimi, insya Allah makbul. Dan saya sedang mendoakan agar AS segera dihancurkan oleh Allah SWT.

Boleh tahu, bagaimana bunyi doa itu?

Doanya seperti yang dipakai Nabi Musa As untuk Fir’aun laknatullah. Artinya, Ya Allah, Engkau telah memberikan Fir’aun dan pejabatnya, harta dan perhiasannya yang banyak. Ya Allah, mereka gunakan untuk menyesatkan umat manusia. Oleh karena itu hancurkanlah Fir’aun dan hartanya itu supaya tidak akan beriman sampai mereka melihat azab.

Menghadapi perlakuan zhalim yang bertubi-tubi ini, apakah Anda pernah merasakan frustrasi atau putus asa?

Alhamdulillah tidak pernah. Tetapi terus terang saya pernah merasa sedih dan tertekan. Tapi buru-buru itu semua saya kembalikan kepada prinsip saya, yaitu ini semua ujian Allah. Allah itu menguji hamba-Nya salah satu tujuannya adalah untuk menebus dosa. Mudah-mudahan dengan ujian ini dosa saya bersih.

Menurut sebuah hadits, ada beberapa hal yang bisa menghapus dosa. Pertama, amal shalih. Kedua, ujian. Ketiga, taubat. Jadi, ujian yang Allah berikan itu adalah dalam rangka menghapus dosa. Asalkan, orang yang mendapat ujian itu ridha dan tetap menuju Allah.

Apa saja rutinitas sehari-hari Anda selama di penjara?

Di samping membaca kitab-kitab, juga berusaha meningkatkan ibadah. Shalat 5 waktu bisa dilakukan dengan berjama’ah, saya menjadi imamnya. Alhamdulillah, masjidnya makmur. Shalatnya selalu ramai.

Saya juga mengkoordinir narapidana untuk melaksanakan puasa sunnah Senin-Kamis. Kami sahur bersama, buka bersama. Alhamdulillah ada ummat Islam di luar yang membantu kebutuhan konsumsi kami. Ada yang memberi beras, kurma, Indomie, dan macam-macam.

Saya juga menggerakkan pengajian. Dulu sewaktu Habib Rizieq ditahan di sini, kami berdua bahu-membahu. Sekarang ini, setiap hari Sabtu dan Ahad saya memberikan pengajian tentang Pokok-pokok Dienul Islam. Ini dari buku yang saya tulis sendiri sewaktu masih tinggal di Malaysia. Kalau hari Rabu, saya mengisi Tafsir Al-Quran. Hari Senin dan Kamis menjelang berbuka, saya isi dengan materi Fiqh. Mulai dari cara wudhu yang benar, shalat, dan lain-lain. Itu juga ada bukunya, tapi belum selesai saya tulis. Setiap malam Rabu, saya mengisi pengajian umum.

Berapa banyak narapidana yang aktif mengikuti kegiatan Anda?

Sekitar 50 – 100 orang.

Sepertinya kegiatan Anda tidak berbeda dengan ketika ada di luar penjara?

Betul. Materi ceramahnya juga sama. Semua saya sampaikan apa adanya. Tidak ada yang saya tutup-tutupi.

Contoh materi ceramahnya?

Tadi malam misalnya, saya ceramah tentang rahmat. Saya katakan kepada para napi, bahwa kalian ini masuk penjara sebenarnya adalah rahmat. Sebab kalau kalian masuk penjara, dosamu telah terbayar, asalkan kalian menjalaninya dengan baik. Di penjara ini sesungguhnya kalian sedang dicuci oleh Allah. Karena itu tidak perlu berusaha kabur. Nanti malah nggak karu-karuan. Adapun teman kalian yang belum tertangkap dan masih melakukan kejahatan di luar, mereka itu sebenarnya rugi.

Ketika Anda menyampaikan ceramah semacam itu, adakah pertanyaan atau reaksi dari narapidana?

Banyak. Ada yang bertanya, bagaimana doanya agar vonisnya diringankan. Wah, repot ini. Maka saya katakan, “Kalau memang kamu salah, nggak usah berbelit-belit. Akui saja perbuatanmu. Katakan bahwa kamu ingin bertaubat. Insya Allah akan didengar oleh Tuhan.�

Malah ada yang sering konsultasi. Isinya macam-macam juga, mulai dari masalah ibadah sampai persoalan rumah tangga. Misalnya bagaimana mengendalikan diri karena berjauhan dengan istri.

Apakah Anda punya kiat khusus agar bisa “menaklukkan� narapidana?

Ya memang harus lebih telaten ya, karena kebanyakan mereka orang-orang yang sudah rusak. Namun ada beberapa yang akhirnya “jadi�, dan kini sungguh luar biasa aktivitas dakwahnya setelah bebas. Tentu saja itu bukan karena saya ya, semua karena hidayah Allah. Saya kan hanya menyampaikan apa yang tertera dalam Al-Quran dan Sunnah. Masalah orang itu hatinya akan bisa menerima apa tidak, itu urusan Allah.

Di sela-sela kesibukan Anda, waktu yang relatif luang biasanya dimanfaatkan untuk apa?

Tamu saya cukup banyak, alhamdulillah. Maka kalau ada waktu luang saya gunakan untuk istirahat. Tidur. Selebihnya membaca kitab, buku, nonton televisi, membaca koran, atau majalah. Di sel saya sebenarnya cukup banyak buku, namun sudah saya berikan ke orang-orang. Nanti kalau bebas bikin repot saja kalau barang bawaan terlalu banyak.

Ustadz Abubakar Baa’syir lahir di Mojoagung, Jombang (Jatim) pada 18 Dzulhijjah 1359 H (1938). Pendidikan agama pertama diperolehnya dari sang ibu yang menjadi guru ngaji di kampung halaman. Tahun 1959, ia nyantri di Pesantren Gontor, Ponorogo. Lulus 1963, lalu melanjutkan ke Universitas Al-Irsyad. Pada saat itu, ia sudah aktif memberi ceramah dari kampung ke kampung. Dari aktivitas ini pula Abubakar Ba’asyir banyak kenal dengan mubaligh dari berbagai kalangan.

Tahun 1974, bersama almarhum Ust Abdullah Sungkar mendirikan Pesantren Al-Mukmin di Ngruki. Pada tahun 1978, Ba’asyir ditangkap rezim Orde Baru karena dianggap terlalu vokal menentang pemberlakuan asas tunggal Pancasila.

Suami Aisyah binti Abdurrahman Baradja ini ditahan selama 4 tahun tanpa proses peradilan. Setelah terkatung-katung di tahanan, tahun 1982 Pengadilan Negeri (PN) Sukoharjo menjatuhi vonis 12 tahun penjara atas dakwaan subversi. Ustadz Abu mengajukan banding. Pengadilan Tinggi (PT) Semarang akhirnya menjatuhkan hukuman 4 tahun. Jaksa penuntut umum tidak puas dan mengajukan kasasi ke MA. Namun MA membebaskan pria yang sudah menjalani tahanan selama 4 tahun ini, sambil menunggu keputusan kasasi.

Ia terus giat berdakwah dan menentang asas tunggal. Akhirnya pada tahun 1985 datang panggilan dari PN Sukoharjo. Dia diminta hadir untuk mendengarkan putusan kasasi. Namun atas nasihat pembela dan beberapa ulama, Ustadz Abu menghindari panggilan itu. Ada dugaan, surat dari pengadilan itu hanyalah siasat untuk melakukan penangkapan.

Ustadz Abu memilih hijrah ke Malaysia. Di negeri jiran ini, dia memperoleh izin tinggal untuk orang asing. Cukup lama, sekitar 15 tahun hidup di Malaysia. Hari-hari Ustadz Abu dihabiskan untuk kegiatan dakwah, yakni menyerukan kepada ummat agar kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah, serta memerangi bid’ah. Itulah sebabnya jama’ah pengajiannya dikenal dengan sebutan As-Sunnah. Jadi bukan Jamaah Islamiyah (JI) seperti yang sering tertulis di media massa selama ini. Ketika di Indonesia bergulir era reformasi, Ustadz Abu memutuskan untuk balik kampung (akhir 1999). Muncul masalah lagi pada Agustus 2001 ketika di Malaysia terjadi penangkapan terhadap mereka yang disebut-sebut aktivis Kumpulan Militan Malaysia (KMM). Ia dituduh terkait dengan organisasi itu.

Namanya bahkan kemudian dikait-kaitkan dengan apa yang disebut jaringan Al-Qaidah pimpinan Usamah bin Ladin. Ia didakwa menjadi Amir JI, salah satu sel Al-Qaidah. JI pula yang menjadi sasaran tuduhan atas berbagai peristiwa pengeboman di beberapa tempat di Indonesia. Inilah yang akhirnya membawa Ustadz Abu ke penjara, untuk ke sekian kalinya.


Saat ini Anda dicitrakan negatif dengan dikaitkan “terorisme�. Bagaimana perasaan Anda?

Sebagai manusia tentu saja sedih ya. Tetapi saya tidak mundur. Itu semua adalah fitnah, maka akan saya lawan. Saya berpegang pada firman Allah dalam Al-Quran surat Muhammad ayat 35 yang berbunyi, “Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas, dan Allah beserta kamu.�

Beberapa saat lalu ada seorang profesor dari Australia menemui saya, katanya sedang mengadakan penelitian tentang Islam. Dia bilang, memang berita tentang Abubakar Ba’asyir di Australia sangat jelek. Bahkan dalam tayang televisi, gambar saya dibuat sedemikian rupa agar tampak menakutkan.

Begitu pula kabarnya yang terjadi di AS. Anak ipar saya pernah memberitahu, sebelum ditangkap, foto saya tertempel di sudut-sudut jalan. Tertulis besar-besar di situ: Wanted! (Dicari!)

Memang begitulah cara musuh-musuh Allah ketika hendak memadamkan cahaya-Nya. Kalau ada tokoh/mubaligh yang gencar membina ummat dan menegakkan syariah, harus dihancurkan. Musuh Allah akan memerangi kita minimal dengan 3 cara, yaitu memenjarakan, membunuh, dan mengusir. Itu memang pekerjaannya.

Hidup Anda penuh ujian. Bagaimana sikap istri dan anggota keluarga?

Ya namanya keluarga, pernah terguncang juga. Tetapi saya selalu menasihati. Pertama, kita hanya bisa bertawakal kepada Allah. Kedua, kita berusaha keras menolak atau melawan semua fitnah ini. Kalau kita sudah berusaha tetapi saya tetap harus ditahan lagi, itu namanya takdir. Harus diterima dengan lapang dada. Alhamdulillah, istri, anak-anak, menantu, cucu-cucu, bisa mengerti dengan penjelasan itu.

Istri dan anak-anak sering bezuk ke sini?

Ya. Selama saya ada di sini (Jakarta), biasanya 2 bulan sekali ke Jakarta. Istri saya tinggal di Jakarta selama 1 bulan, 1 bulan lagi di Solo. Kalau pas di Jakarta, ia biasanya ke sini 2 hari sekali. Ketika Hari Raya Idul Fitri yang lalu, kami semua bisa berkumpul. Semua anak saya, termasuk yang tinggal di Timur Tengah, lalu menantu, dan 8 cucu, bisa shalat Ied di Rutan Salemba. Alhamdulillah.

Kalau pas ketemu keluarga, apa saja yang bisa dibicarakan?

Tidak ada yang istimewa, biasa-biasa saja.

Apakah dengan hidup di penjara lantas kebersamaan keluarga Anda jadi terganggu?

Ya namanya di penjara, pasti jadi terbatas ya. Maklum, di sini kan ada peraturan, jadi harus saya hormati. Tidak bisa kita seenak sendiri. Tetapi saya bersyukur karena saya banyak diberi kelonggaran. Para petugas tahu terhadap persoalan yang sedang saya hadapi. Petugas yang Muslim maupun non-Muslim semua baik kepada saya.

Bagaimana kabar Pesantren Ngruki yang dulu Anda rintis?

Alhamdulillah baik-baik saja. Menurut teman-teman, semua berjalan biasa saja seperti sebelumnya. Meski saya di penjara, tak banyak berpengaruh. Apalagi saya ini sekarang kan statusnya sebagai pengajar saja, bukan pimpinan pondok.

Sama dengan Anda, Pesantren Ngruki juga disebut-sebut terkait dengan “terorisme�?

Itu memang usaha AS dan konco-konco-nya. Pesantren seperti Ngruki ini kan dianggap berhasil mendidik santri sehingga mengerti Islam yang sebenarnya. Makanya harus dilemahkan, atau dibubarkan. Caranya dengan difitnah, mau diubah kurikulumnya, atau malah diberi bantuan dengan menyembunyikan maksud tertentu.

Akibat adanya serangan yang bertubi-tubi, apakah metode belajar-mengajar di Ngruki akan diubah?

Ngruki tidak akan berubah. Mudah-mudahan diberi kekuatan oleh Allah. Sebenarnya Ngruki itu tidak ada apa-apanya. Tidak ada kelebihannya dibandingkan pesantren lain. Hanya memang, anak-anak di Ngruki memiliki semangat jihad. Itu memang ajaran Tauhid yang kami berikan. Yang lainnya ya... sama saja dengan pesantren pada umumnya.

Menurut aparat, banyak alumnus Ngruki yang terlibat dalam kegiatan terorisme. Bagaimana tanggapan Anda?

Ini tidak adil. Imam Samudera itu lulusan Madrasah Aliyah Negeri. Kenapa yang ini tak dipersoalkan? Lha kok cuma Ngruki yang diributkan. Saya juga heran, kalau ada tersangka bom kok lantas ditanya, apakah kenal dengan Abubakar Ba’asyir? Kenapa tidak ditanya misalnya, apakah kenal dengan Megawati atau Da’i Bachtiar? Kalau misalnya tersangka itu menjawab “kenal�, mau apa coba?

Oh ya, kalau Anda bebas, apa yang akan dilakukan?

Pertama, menjaga kesehatan. Kedua, ingin silaturrahim kepada sanak famili serta alim ulama. Ketiga, menyelesaikan penulisan buku Pokok-Pokok Dienul Islam yang saya tulis sejak masih di Malaysia. Sebenarnya saya ingin menyelesaikannya di penjara, tetapi karena di sini maraji’ (kepustakaan)-nya kurang ya tidak bisa. Harus saya selesaikan di rumah, yang ada perpustakaannya. Semoga dalam waktu 1-3 bulan bisa selesai. Selama ini, tulisan saya ini sudah jadi buku pelajaran di pondok.

Selain itu, tentu saja akan banyak kegiatan di Majelis Mujahidin. Ini yang akan banyak menyita waktu saya. Harus ceramah kesana kemari, mengisi pengajian di berbagai daerah, dan pokoknya banyak kegiatan. Saya memang akan terus mengabdikan diri pada perjuangan menegakkan syariat Islam, sampai mati.•

Diambil dari Majalah Hidayatullah, edisi Mei 2004, rubrik Figur.

No comments: